Cerita Dongeng dari Seluruh Dunia

8 Desember 2008

I’m Sorry….

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 15:09

maaf banget yach klo blog ini dah lama gga kuisi coz q lagi vakum bngt soal blog ini….

w lagi memusatkan pada blog di blogger, klik aj mimpiuntukmu.blogspot.com …..

sorry banget yach…..

trima ksh ats pngrtiannya….

1 Desember 2008

Seruling Sakti

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 21:39

Pada zaman dahulu terdapat sebuah pekan kecil yang sangat cantik terletak di kaki bukit. Pekan tersebut di kenali Hamelyn. Penduduk di pekan tersebut hidup dengan aman damai, tetapi sikap mereka tidak perihatin terhadap kebersihan. Pekan tersebut penuh dengan sampah sarap. Mereka membuang sampah di merata-rata menyebabkan pekan tersebut menjadi tempat pembiakan tikus. Semakin hari semakin banyak tikus membiak menyebabkan pekan tersebut dipebuhi oleh tikus-tikus.

Tikus-tikus berkeliaran dengan banyaknya dipekan tersebut. Setiap rumah tikus-tikus bergerak bebas tanpa perasaan takut kepada manusia. Penduduk di pekan ini cuba membela kucing untuk menghalau tikus dan ada diantara mereka memasang perangkap tetapi tidak berkesan kerana tikus terlampau banyak. Mereka sungguh susah hati dan mati akal bagaimana untuk menghapuskan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa pekan tersebut telah tersebar luas ke pekan-pekan lain sehinggalah pada suatu hari seorang pemuda yang tidak dikenali datang ke pekan tersebut dan menawarkan khidmatnya untuk menghalau semua tikus dengan syarat penduduk pekan tersebut membayar upah atas kadar dua keping wang mas setiap orang. Penduduk di pekan tersebut berbincang sesama mereka diatas tawaran pemuda tadi. Ada diatara mereka tidak bersetuju oleh kerana mereka tidak sanggup untuk membayar upah yang sangat mahal. Setelah berbincang dengan panjang lebar akhirnya mereka bersetuju untuk membayar upah seperti yang diminta oleh pemuda itu kerana mereka tidak mempunyai pilihan lain.

Keputusan tersebut dimaklumkan kepada pemuda tadi, lalu dia mengeluarkan seruling sakti dan meniupnya. Bunyi yang keluar dari seruling itu sangat merdu dan mengasik sesiapa yang mendengarnya. Tikus-tikus yang berada dimerata tempat didalam pekan tersebut mula keluar dan berkumpul mengelilinginya. Pemuda tadi berjalan perlahan-lahan sambil meniup seruling sakti dan menuju ke sebatang sungai yang jauh dari pekan tersebut. Apabila sampai ditepi sungai pemuda tadi terus masuk kedalamnya dan diikuti oleh semua tikus.Tikus-tikus tadi tidak dapat berenang didalam sungai dan semuanya mati lemas.

Kini pekan Hamelyn telah bebas daripada serangan tikus dan penduduk bersorak dengan gembiranya. Apabila pemuda tadi menuntut janjinya, penduduk tersebut enggan membayar upah yang telah dijanjikan kerana mereka mengangap kerja yang dibuat oleh pemuda tadi tidak sepadan dengan upah yang diminta kerana hanya dengan meniupkan seruling sahaja. Pemuda tadi sangat marah lalu dia menuipkan seruling saktinya sekali lagi. Irama yang keluar dari seruling itu sangat memikat hati kanak-kanak menyebabkan semua kanak-kanak berkumpul di sekelilingnya. Satelah semua kanak-kanak berkumpul pemuda tadi berjalan sambil meniupkan seruling dan diikuti oleh semua kanak-kanak. Pemuda itu membawa kanak-kanak tersebut keluar dari pekan Hamelyn. Setelah Ibu Bapa menyedari bahawa mereka akan kehilangan anak-anak, mereka mulai merasa cemas kerana kanak-kanak telah meninggalkan mereka dan mengikuti pemuda tadi. Mereka mengejar pemuda tadi dan merayu supaya menghentikan daripada meniup seruling dan memulangkan kembali anak-anak mereka. Merka sanggup memberi semua harta benda yamg ada asalkan pemuda tersebut mengembalikan anak-anak mereka.

Rayuan penduduk tidak diendahkan oleh pemuda tadi lalu mereka membawa kanak-kanak tersebut menuju kesuatu tempat dan apabila mereka sampai disitu muncul sebuah gua dengan tiba-tiba. Pemuda tadi mesuk ke dalam gua itu dan diikuti oleh kanak-kanak. Setelah semuanya masuk tiba-tiba gua tersebut gaib dan hilang daripada pandangan penduduk pekan tersebut. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa oleh kerana mereka telah memungkiri janji yang mereka buat. Merka menyesal diatas perbuatan mereka tetapi sudah terlambat. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna.

Sehingga hari ini penduduk pekan Hamelyn tidak melupakan kesilapan yang dilalukan oleh nenek moyang mereka. Menepati janji adalah pegangan yang kuat diamalkan oleh penduduk pekan Hamelyn sehingga hari ini.

29 November 2008

Pemerah Susu dan Embernya

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 13:36

Pemerah susu dan ember berisi susu yang tumpah Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.

“Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya,” pikirnya menghibur diri, “akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat.¬†Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!”

Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya. (Aesop)

23 November 2008

Putri Tidur (Sleeping Beauty)

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 22:13

Di jaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang tidak memiliki anak; masalah ini membuat Raja dan Ratu sangatlah sedih. Tetapi di suatu hari, ketika sang Ratu berjalan di tepi sungai, seekor ikan kecil mengangkat kepalanya keluar dari air dan berkata, “Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi, dan kamu akan segera mempunyai seorang putri.”

Apa yang ikan kecil tersebut ramalkan segera menjadi kenyataan; dan sang Ratu melahirkan seorang gadis kecil yang sangat cantik sehingga sang Raja tidak dapat menahan kegembiraannya dan mengadakan perjamuan besar besaran. Dia lalu mengundang semua sanak keluarga, teman dan seluruh penduduk dikerajaannya. Semua peri yang ada dikerajaannya juga turut diundang agar mereka dapat ikut menjaga dan memberikan berkah kepada putri kecilnya. Di kerajaannya terdapat tiga belas orang peri dan sang Raja hanya memiliki dua belas piring emas, sehingga Raja tersebut memutuskan untuk mengundang dua belas orang peri saja dan tidak mengundang peri yang ketiga belas. Semua tamu dan peri telah hadir dan setelah perjamuan mereka memberikan hadiah-hadiah terbaiknya untuk putri kecil itu, satu orang peri memberikan kebaikan, peri yang lainnya memberikan kecantikan, yang lainnya lagi memberikan kekayaan, dan begitu pula dengan peri-peri yang lainnya sehingga putri kecil itu hampir mendapatkan semua hal-hal yang terbaik yang ada di dunia. Ketika peri yang kesebelas selesai memberikan berkahnya, peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan dan menjadi sangat marah itu, datang dan membalas dendam. Dia berkata, “Putri Raja dalam usianya yang kelima belas akan tertusuk oleh jarum jahit dan meninggal.” Kemudian peri yang kedua belas yang belum memberikan berkahnya kepada sang Putri, maju kedepan dan berkata bahwa kutukan yang dikatakan oleh peri ketiga belas tersebut akan terjadi, tetapi dia dapat memperlunak kutukan itu, dan berkata bahwa sang Putri tidak akan meninggal, tetapi hanya jatuh tertidur selama seratus tahun.

Raja berharap agar dia dapat menyelamatkan putri kesayangannya dari ancaman kutukan itu dan memerintahkan semua jarum jahit di istananya harus di bawa keluar dan dimusnahkan. Sementara itu, semua berkah yang diberikan oleh peri-peri tadi terwujud, sang Putri menjadi sangat cantik, baik budi, ramah-tamah dan bijaksana, hingga semua orang mencintainya. Tepat pada usianya yang kelima belas, Raja dan Ratu kebetulan meninggalkan istana, dan sang Putri ditinggalkan sendiri di istana. Sang Putri menjelajah di istana sendirian dan melihat kamar-kamar yang ada pada istana itu, hingga akhirnya dia masuk ke satu menara tua dimana terletak satu tangga sempit menuju ke atas yang berakhir dengan satu pintu kecil. Pada pintu tersebut tergantung sebuah kunci emas, dan ketika dia membuka pintu tersebut, dilihatnya seorang wanita tua sedang menjahit dengan jarum jahit dan kelihatan sangat sibuk.

“Hai ibu yang baik,” kata sang Putri, “Apa yang kamu lakukan disini?”

“Menjahit dan menyulam,” kata wanita tua itu, kemudian menganggukkan kepalanya.

“Betapa cantiknya hasil sulaman mu!” kata sang Putri, dan mengambil jarum jahit dan mulai ikut menyulam. Tetapi secara tidak sengaja dia tertusuk oleh jarum tersebut dan apa yang diramalkan sewaktu dia masih kecil, terjadi, sang Putri jatuh ke tanah seolah-olah tidak bernyawa lagi.

Seperti yang diramalkan bahwa walaupun sang Putri akan tertusuk oleh jarum jahit, sang Putri tidak akan meninggal, melainkan hanya akan tertidur pulas; Raja dan Ratu yang baru saja pulang ke istana, beserta semua menteri juga jatuh tertidur, kuda di kandang, anjing di halaman, burung merpati di atas atap dan lalat yang berada di dinding, semuanya jatuh tertidur. Bahkan api yang menyalapun menjadi terhenti, daging yang dipanggang menjadi kaku, tukang masak, yang saat itu sedang menarik rambut seorang anak kecil yang melakukan hal-hal yang kurang baik, juga jatuh tertidur, semuanya tertidur pulas dan diam.

Dengan cepat tanaman-tanaman liar berduri di sekitar istana tumbuh dan memagari istana, dan setiap tahun bertambah tebal dan tebal hingga akhirnya semua tempat di telah dikelilingi oleh tanaman tersebut dan menjadi tidak kelihatan lagi. Bahkan atap dan cerobong asap juga sudah tidak dapat dilihat karena telah tertutup oleh tanaman tersebut. Tetapi kabar tentang putri cantik yang tertidur menyebar ke seluruh daratan sehingga banyak anak-anak Raja dan Pangeran mencoba untuk datang dan berusaha untuk masuk ke dalam istana itu. Tetapi mereka tidak pernah dapat berhasil karena duri dan tanaman yang terhampar menjalin dan menjerat mereka seolah-olah mereka dipegang oleh tangan, dan akhirnya mereka tidak dapat maju lagi.

Setelah bertahun-tahun berlalu, orang-orang yang telah tua menceritakan cerita tentang seorang putri raja yang sangat cantik, betapa tebalnya duri yang memagari istana putri tersebut, dan betapa indahnya istana yang terselubung dalam duri itu. Dia juga menceritakan apa yang didengarnya dari kakeknya dahulu bahwa banyak pangeran telah mencoba untuk menembus semak belukar tersebut, tetapi semuanya tidak pernah ada yang berhasil.

Kemudian seorang pangeran yang mendengar ceritanya berkata, “Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya, Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut.” Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah pangeran itu untuk pergi, pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.

Pangeran dan Putri TidurSaat ini, seratus tahun telah berlalu, dan ketika pangeran tersebut datang ke semak belukar yang memagari istana, yang dilihatnya hanyalah tanaman-tanaman yang indah yang dapat dilaluinya dengan mudah. Tanaman tersebut menutup kembali dengan rapat ketika pangeran tersebut telah melaluinya. Ketika pangeran tersebut akhirnya tiba di istana, dilihatnya anjing yang ada di halaman sedang tertidur, begitu juga kuda yang ada di kandang istana, dan di atap dilihatnya burung merpati yang juga tertidur dengan kepala dibawah sayapnya; dan ketika dia masuk ke istana, dia melihat lalat tertidur di dinding istana, dan tukang masak masih memegang rambut anak yang kelihatan meringis dalam tidur, seolah-olah tukang masak itu ingin memukuli anak tersebut.

Ketika dia masuk lebih kedalam, semuanya terasa begitu sunyi sehingga dia bisa mendengar suara nafasnya sendiri; hingga dia tiba di menara tua dan membuka pintu dimana Putri Tidur tersebut berada. Putri Tidur terlihat begitu cantik sehingga sang Pangeran tidak dapat melepaskan matanya dari sang Putri. Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri. Saat itulah sang Putri membuka matanya dan terbangun, tersenyum kepada sang Pangeran karena kutukan sang peri ketiga belas telah patah.

Mereka berdua lalu keluar dari menara tersebut dan saat itu Raja dan Ratu juga telah terbangun termasuk semua menterinya yang saling memandang dengan takjub. Kuda-kuda istana pun terbangun dan meringkik, anjing-anjing juga melompat bangun dan menggonggong, burung-burung merpati di atap mengeluarkan kepalanya dari bawah sayapnya, melihat sekeliling lalu terbang ke langit; lalat yang didinding langsung beterbangan kembali; api didapur kembali menyala; tukang masak yang tadinya memegang rambut seorang anak laki-laki dan ingin menghukumnya melanjutkan hukumannya dengan memutar telinga anak tersebut hingga anak tersebut menangis.

Akhirnya Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaan sepanjang hidup mereka. (Ditulis oleh Charles Perrault, merupakan cerita yg kisahnya sudah diadaptasi ke film Sleeping Beauty produksi Walt Disney)

Pangeran yang Bahagia

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 21:52

Berdiri tinggi di sebuah kota, diatas sebuah kolom yang jangkung, terdapat patung Pangeran Yang Bahagia. Seluruh tubuhnya dilapis oleh lempengan-lempengan tipis emas dengan kualitas terbaik, dua batu safir biru bercahaya dikedua matanya, dan sebuah batu rubi merah delima yang besar menghiasi pangkal pedangnya.

Patung pangeran itu pun sangat dikagumi. “Ia seindah penunjuk arah angin,” Kata seorang Anggota Dewan Kota yang berharap memperoleh pengakuan akan cita rasa artistiknya ” Hanya tidak terlalu bermanfaat,” Tambahnya cepat-cepat karena takut ada orang yang menganggap ia tidak realistis. Padahal menurutnya ia adalah orang yang sangat realistis.

“Mengapa kamu tidak bisa seperti Pangeran Yang Bahagia?” Tanya seorang ibu pada anak laki-lakinya yang masih kecil pada saat sang anak menangis meminta bulan. “Pangeran Yang Bahagia tidak pernah menangis untuk apapun.”

“Yah, paling tidak didunia ini ada orang yang selalu bahagia” Ucap seorang laki-laki yang kecewa saat ia memandang patung yang indah tersebut.

“Lihat, rupanya seperti malaikat,” Kata anak-anak penderma yang muncul dari katedral dengan jubah merah tua mereka yang terang dan oto putih yang bersih. “Bagaimana kalian tau bahwa muka patung tersebut menyerupai malaikat? Kalian kan tidak pernah melihat malaikat.” Kata seorang ahli matematika saat ia mendengar ucapan anak-anak tersebut. “Ah! Kita pernah melihatnya, malaikat muncul dalam mimpi kita,” jawab anak-anak. Sang ahli matematikapun mengernyitkan keningnya dan terlihat jengkel karena ia tidak setuju anak-anak bermimpi.

Pada suatu malam terbang seekor burung layang layang kecil atas kota tersebut. Burung layang-layang yang lain telah memulai perjalanan mereka ke Mesir enam minggu sebelumnya, namun sang burung layang-layang kecil itu memutuskan untuk tinggal karena ia sedang jatuh cinta dengan Alang alang yang paling indah yang pernah ia temui. Ia berjumpa dengan Alang-alang tersebut di awal di musim semi, saat ia tengah terbang meniti tepian sungai mengejar seekor ngengat kuning yang besar. Sang burung kecil terpesona oleh gemulai pinggangnya yang langsing, ia memutuskan untuk berhenti dan berbicara dengannya.

“Bolehkah aku mencintaimu?” Tanya burung layang-layang kecil, yang segera mengutarakan isi hatinya tanpa berbasa-basi lagi; dan alang alang merunduk rendah. Sang burung kecil pun terbang mengelilinginya berkali-kali dan menyentuhkan sayapnya pada permukaan air sungai sehingga timbulah percikan-percikan air keperakan. Tarian ini adalah pinangannya dan hal ini berlangsung selama musim panas.

” Betapa menggelikannya pasangan tersebut,” Komentar burung layang-layang lainnya. ” Si alang-alang tidak punya uang dan memiliki terlalu banyak saudara.”

Saat itu sungai memang penuh dengan alang-alang. Ketika musim gugur tiba, burung layang-layang lainnyapun terbang bermigrasi ke Mesir, menuju piramid-piramid.

Setelah burung-burung lain meninggalkannya, ia mulai merasa kesepian, dan perlahan-lahan bosan terhadap pasangannya tercinta.

” Dia tidak bisa bercakap-cakap,” sang burung berkata, ” Dan aku curiga bahwa ia adalah wanita yang genit, karena ia selalu menggoda sang angin.” Hal ini memang dapat dipastikan, karena setiap saat sang angin berhembus, Alang-alang dengan lemah gemulai akan membuat gerakan merunduk yang indah. ” Aku mengakui bahwa dia adalah mahluk domestik,” lanjutnya, ” tetapi aku senang bepergian, dan isteriku, sebagai konsekwensinya, harus senang bepergian juga.”
” Maukah kau pergi denganku?” Akhirnya si burung kecil bertanya pada istrinya; namun sang alang alang menggelengkan kepalanya, ia terlalu terikat dengan rumahnya.

“Kau telah mempermainkan aku,” Burung kecil menangis kecewa. ” Aku akan pergi menuju piramid-piramid. Selamat Tinggal!” dan ia pun terbang menjauh.

Sepanjang hari ia terbang, dan pada malam hari ia tiba di kota. ” Di manakah aku harus beristirahat?” ia berkata; ” Aku harap kota ini telah membuat persiapan.”

Kemudian ia melihat sebuah patung diatas kolom yang tinggi.

” Aku akan tidur disini,” sahutnya gembira; ” ini adalah posisi yang bagus, dekat ruang terbuka dengan banyak udara segar.” Maka ia mendarat diantara kaki patung Pangeran yang Bahagia.

” Wow, aku mempunyai ruang tidur emas,” Bisiknya perlahan saat ia melihat kesekelilingnya, dan ia pun bersiap-siap untuk pergi tidur; namun persis ketika ia hendak membaringkan kepalanya diatas sayapnya yang hangat — setetes air yang besar jatuh diatasnya. ” Aneh sekali!” sahutnya; ” Tak ada satu pun awan terlihat, langit cerah dan bintang-bintang bersinar dengan terangnya, tapi kok hujan ya? Iklim di Eropa utara memang betul-betul mengganggu. Sang Alang Alang dahulu senang akan hujan, tapi itu hanya kesenanganya sendiri yang egois.”

Kemudian tetesan berikutnya jatuh.

” Apa gunanya berteduh dibawah patung jika tidak terlindung dari hujan?” katanya; ” Ah aku akan mencari cerobong rumah yang baik,” dan sang burung pun bertekad untuk pergi.

Namun belum sempat ia membuka sayapnya, tetesan ketiga jatuh, ia pun menengadahkan kepalanya keatas, dan melihat — Ah! apa yang telah ia lihat? Mata dari Pangeran yang Bahagia penuh dengan air mata, dan airmatanya bergulir diatas pipi emasnya. Wajahnya begitu rupawan dibawah sinar rembulan sehingga sang burung layang-layang kecil merasa iba.

“Siapakah kamu?” Tanya si burung kecil.

“Aku adalah Pangeran yang Bahagia.”

“Lalu mengapa kamu menangis?” tanya burung layang-layang; ” Kamu hampir membasahi seluruh tubuhku.”

Pangeran Bahagia yang menangis

“Saat aku hidup dan memiliki jantung yang berdegup” jawab patung, ” Aku tidak mengetahui apa itu air mata, karena aku tinggal dalam Istana Sans-Souci, dimana duka tidak diijinkan untuk masuk. Pada siang hari aku bermain dengan teman-temanku di taman, dan pada malam hari aku memimpin tarian di Aula Utama. Di sekeliling taman dibangun dinding yang tinggi, tetapi aku tidak pernah peduli dan bertanya apa yang ada diluar dinding tersebut, semua tentangku menjadi sangat indah. Para punggawa istana memanggilku Pangeran yang bahagia, dan aku betul-betul bahagia, jika kesenangan adalah kebahagiaan, maka aku hidup dan meninggal dalam kebahagiaan.”

Setelah aku mati mereka menaruh aku diatas kolom ini begitu tingginya sehingga aku dapat melihat semua kejelekan dan semua kesengsaraan dari kota ku, dan walaupun hatiku kini terbuat dari timah namun aku tidak bisa berhenti menangis.”

” Apa? Aku kira ia seluruhnya terbuat dari emas!” kata Burung layang-layang kepada dirinya sendiri. Bagaimanapun si burung kecil masih berlaku sopan dan tidak mengungkapkan pendapat pribadinya dengan nyaring.

” Jauh disana,” lanjut sang patung dengan lantunan pilu, “jauh disana dijalanan yang kecil terdapat rumah orang miskin. Salah satu dari jendelanya terbuka, dan melalui jendela itu aku dapat melihat seorang perempuan duduk diatas meja. Wajahnya kurus dan letih, tangannya kasar, merah penuh dengan tusukan jarum, ia adalah seorang penjahit. Kini ia sedang menyulam bunga-bunga mawar diatas gaun satin bagi gadis cantik pendamping ratu untuk Pesta Pertunangan yang akan datang. Diatas tempat tidur di pojok ruangan, anak lelakinya terbaring sakit. Badannya panas, dan ia meminta jeruk untuk dimakan. Ibunya tidak memiliki apapun, hanya air dari sungai untuk minum, dan kini si anak menangis. Oh burung layang layang kecil, maukah engkau membawakan batu rubi pada pangkal pedangku? Kakiku telah dikeraskan menjadi satu dengan landasan kolom ini dan aku tak bisa bergerak.”
” Tapi teman-temanku telah menanti di Mesir,” kata si burung kecil, ” mereka tengah terbang naik-turun melintasi Sungai Nil, dan bercengkrama dengan bunga teratai besar. Segera mereka akan pergi tidur di pusara Raja Termasyur. Sang Raja terbaring sendiri didalam peti mayatnya yang berwarna-warni. Ia dibalut oleh linen yang menguning, dan dibalsem dengan rempah-rempah. Lehernya akan dihiasi dengan kalung dari batu-batu permata berwarna hijau pucat, dan tangan menangkup layaknya daun layu.”
” Burung layang-layang, oh burung layang-layang kecil,” panggil Pangeran, ” bersediakah kamu tinggal denganku untuk semalam dan menjadi pembawa pesanku? Anak laki-laki tersebut menjadi haus, dan ibunya menjadi sangat sedih.”

” Aku tidak terlalu suka anak-anak lelaki,” jawab burung layang-layang. ” Musim panas yang lalu, saat aku berdiam di sungai, ada dua anak-anak lelaki yang tidak sopan, putra pemilik penggilingan tepung , mereka selalu melempariku batu-batu. Lemparan mereka tidak ada yang kena, tentu saja; kami, burung layang-layang dalah penerbang yang hebat, apalagi untuk hal kecil seperti itu. Lagipula, aku datang dari suatu keluarga yang terkenal akan ketangkasannya; tetapi tetap saja melempari burung kecil dengan batu itu menandakan ketidak sopanan.”
Namun sang Pangeran bahagia terlihat begitu sedih sehingga burung layang-layang kecil menyesal.

” Diatas sini sangat dingin,” kata sang burung kecil; ” tetapi aku akan menemanimu malam ini, dan menjadi pembawa pesanmu.”

” Terimakasih, Burung layang-layang kecilku,” sahut sang Pangeran.

Burung layang-layang terbang diatas atap-atap rumah

Burung layang-layang pun lalu mencabut batu rubi merah delima dari pangkal pedang pangeran, dan terbang dengan batu tersebut dalam jepitan paruhnya melintasi atap-atap kota.

Ia melewati menara katedral di mana terdapat pahatan patung malaikat dari pualam putih.

Ia melewati istana dan mendengar musik dansa sedang dimainkan. Seorang perempuan cantik muncul dari atas balkon bersama pasanganya.

” Betapa indahnya bintang malam ini,” kata sang lelaki pada pasangannya,” dan betapa indahnya kekuatan cinta!”

” Aku berharap gaunku akan siap pada waktunya untuk Pesta Negara,” jawabnya; ” Aku sudah memerintahkan bunga-bunga mawar untuk disulam diatasnya; namun penjahit itu menjadi sangat malas.”

Ia melintas diatas sungai, dan melihat lentera-lentera yang menggantung pada tiang-tiang kapal.

Ia melintas diatas kawasan miskin dan melihat yahudi-yahudi tua saling menawar, dan menimbang uang mereka dalam timbangan tembaga.

Akhirnya ia sampai di rumah si miskin dan melihat kedalam. Anak laki-laki yang sedang sakit panas tengah berbaring gelisah diatas alas tidurnya, ibunya tertidur karena kelelahan. Si burung pun meloncat kedalam dan meletakkan batu rubi merah delima besar dengan diam-diam diatas meja disamping sarung jahit jari pelindung si ibu.

Kemudian ia terbang mengelilingi tempat tidur dengan perlahan, mengipasi dahi sang anak laki-laki dengan kibasan sayap-sayap nya. ” Aku merasa dingin,” kata sang anak lelaki, ” Pasti ini tanda-tanda kesembuhan”; dan iapun mulai larut dalam tidurnya yang nyenyak.

Kemudian Burung layang-layang kembali terbang ke Pangeran yang bahagia, dan memberitahukan apa yang telah ia lakukan. ” Aneh,” kata si burung kecil, ” Aku merasa hangat walaupun udara sangat dingin sekarang.”

” Itu karena kamu sudah melakukan tindakan yang baik,” kata Pangeran. Dan Burung layang-layang mulai berpikir, dan kemudian ia tertidur. Berpikir selalu membuatnya mengantuk.

Ketika hari menjelang siang, ia pun bergegas terbang ke sungai dan mandi. ” Wah, fenomena yang luar biasa,” kata seorang Professor Ornitologi [1] saat ia menyebrangi jembatan. ” Seekor burung layang-layang di musim dingin!” Dan ia langsung menuliskan surat tentang hal itu ke surat kabar lokal di kota. Semua orang lalu membicarakannya, surat itu penuh dengan kata-kata yang tidak mereka pahami, namun orang-orang merasa penting dengan mengulangi kata-kata asing yang tidak mereka pahami.
” Malam ini aku akan terbang ke Mesir,” kata Burung Layang-layang, ia merasa bersemangat tentang pergi ke Mesir. Ia mengunjungi banyak bangunan-bangunan penting di kota itu, dan duduk dalam jangka waktu yang lama di atas menara gereja. Kemanapun ia pergi burung-burung pipit membicarakannya dan mengatakan pada satu sama lain, ” Lihat seekor burung asing yang terkenal!” maka ia pun merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri.

Ketika bulan muncul ia kembali terbang pada Pangeran yang bahagia. ” Pernahkah kamu mengutus seseorang untuk pergi ke Mesir?” tanyanya riang; ” aku baru saja akan berangkat.”

” Burung layang-layang, burung layang-layang kecil,” katakan Pangeran, ” bersediakah kamu tinggal denganku satu malam lagi?”

” Teman-temanku menanti di Mesir,” jawab burung layang-layang.

” Esok mereka akan terbang ke Air terjun Kedua. Dimana kuda-kuda tepian sungai beristirahat dan diantara rumput gajah, dan diatas tahta granit besar duduklah Dewa Memnon. Sepanjang malam ia akan mengamati bintang-bintang, dan ketika bintang timur bersinar ia akan berteriak gembira, dan kemudian ia akan kembali sunyi. Di siang hari singa-singa berbulu keemasan turun ke tepian sungai untuk minum. Mereka mempunyai mata seperti batu mineral hijau muda, dan raungan mereka membahana mengalahkan gemuruh air terjun”

” Burung layang-layang, burung layang-layang kecil,” sahut Pangeran, ” jauh di seberang kota aku melihat seorang anak muda di sebuah kamar loteng. Ia sedang menangkup diatas meja tulis yang dipenuhi ketas, dan disebelahnya berserakan seikat bunga violet yang layu. Rambutnya berwarna coklat keriting, dan bibirnya semerah buah delima, dan memiliki mata besar penuh mimpi. Ia sedang berusaha untuk menyelesaikan naskah drama untuk Direktur Teater, namun ia tidak mampu menulis lagi karena kedinginan. Tidak ada api yang menghangatkannya dari pendiangan dan rasa lapar telah membuat dia pingsan.”

” Aku akan menemanimu satu malam lagi,” kata burung layang-layang, yang sebenarnya memiliki hati yang baik. ” Haruskah aku mengambil sebuah batu rubi merah delima lain?”

” Aduh! Aku tidak memiliki batu rubi merah delima lainnya,” katakan Pangeran; ” Satu-satunya yang aku miliki adalah mataku. Mereka dibuat dari batu safir langka, dibawa jauh dari India beribu tahun yang lalu. Cabutlah satu dan bawa kepadanya. Ia akan menjual ke toko permata, dan menggunakan uangnya untuk membeli makanan dan kayu bakar, dan menyelesaikan naskah dramanya.”

” Pangeranku sayang,” katakan burung layang-layang kecil, ” Aku tidak bisa melakukannya”; dan iapun mulai menangis.

” Burung layang-layang, burung layang-layang kecil,” yang dikatakan Pangeran, ” lakukanlah sesuai perintahkanku.”

Si burung kecil pun mencabut mata Sang Pangeran, dan terbang ke kamar loteng pelajar tersebut. Ia masuk ke dalam kamar dengan mudah melalui sebuah lubang di atap. Ia pun bergerak cepat, dan masuk ke ruang yang dituju. Sang nak muda menangkupkan kepalanya kedalam tangan-tangan nya, sehingga ia tidak mendengar kibasan sayap-sayap burung, dan ketika ia menengadah ia menemukan batu safir yang indah terletak diantara bunga-bunga violet yang layu.

” Aku mulai dihargai,” teriaknya; ” pasti batu ini berasal dari beberapa pengagum beratku. Sekarang aku dapat menyelesaikan naskah dramaku,” dan ia terlihat sungguh bahagia.

Hari berikutnya sang burung layang-layang terbang ke arah bandar laut. Ia duduk diatas tiang kapal dari kapal yang besar dan mengamati pelaut-pelaut yang sedang menarik peti yang besar ke luar dari galangan dengan tali temali.

” Tarik! Hoi!” teriak mereka setiap kali satu peti muncul kepermukaan.

” Aku akan Mesir”! teriak Burung layang-layang, namun tidak ada orang yang memperhatikannya, dan ketika bulan muncul ia terbang kembali pada Pangeran yang bahagia.

” Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal,” sahutnya.

” Burung layang-layang, burung layang-layang kecil,” kata Pangeran, ” maukan kau menemaniku satu malam lagi?”

” Tapi sekarang musim dingin,” jawab burung layang-layang kecil, ” dan salju yang dingin akan segera turun. Di Mesir matahari bersinar dengan hangat diatas pohon-pohon palem yang hijau, para buaya berbaring di atas lumpur dengan malasnya. Teman-temanku kini sedang membangun sarang mereka di Kuil Baalbek, disaksikan merpati putih dan merah muda yang berdengkur bersahut-sahutan. Pangeranku sayang, aku harus meninggalkanmu, namun aku tidak akan pernah melupakanmu, dan pada musim semi berikutnya aku akan membawakanmu kembali dua batu permata yang indah sebagai pengganti yang sudah engkau berikan. Batu rubinya akan lebih merah dari bunga mawar yang merah, dan batu safirnya akan sebiru laut tua.”

” Di lapangan yang terletak di bawah,” kata Pangeran yang bahagia, ” Berdiri gadis kecil penjual korek api. Dia tanpa sengaja telah menjatuhkan korek apinya, dan kini korek apinya berserakan diatas selokan dan semuanya rusak. Bapakya akan memukulnya bila mengetahui hal ini dan bila si gadis kecil pulang dengan tidak membawa uang. Ia menangis sekarang. Dia tidak mempunyai sepatu atau kaus kaki, dan kepala yang kecil tidak memakai topi untuk melindunginya dari dingin. Burung kecil cabutlah mataku yang satu lagi, dan berikan kepadanya, dan bapaknya tidak akan memukulnya.”

Burung layang-layang kecil mencabut mata pangeran

” Aku akan menemanimu satu malam lagi,” sahut burung kecil, ” namun aku tidak bisa mencabut matamu karena kau akan menjadi buta.”

” Burung layang-layang, burung layang-layang kecil, lakukan sesuai permintaanku,” kata Pangeran. Maka sang burung kecilpun mencabut mata pangeran yang satu lagi, dan bergerak cepat meluncur kebawah dengannya.

Ia menukik dan terbang melewati gadis penjual korek api dan menyelipkan batu permata itu kedalam telapak tangannya. ” Wah, pecahan kaca yang cantik sekali,” seru sang gadis kecil girang; dan ia pun berlari pulang kerumah, tertawa.

Kemudian Burung layang-layang kembali datang pada Pangeran. ” Kamu buta sekarang,” katanya, ” aku akan menemanimu, selalu.”

” Tidak burung kecil,” sahut sang Pangeran memelas, ” kamu harus pergi jauh ke Mesir.”

” Aku akan menemanimu selalu,” kata Burung layang-layang kecil, dan iapun tidur di kaki sang Pangeran.

Pada hari-hari berikutnya ia hinggap di bahu sang Pangeran, dan menceritakan padanya kisah-kisah petualangannya di negeri-negeri asing. Ia bercerita tentang sejenis bangau merah, yang berdiri berbaris baris di pinggiran Sungai Nil, menangkap ikan-ikan emas dengan paruh-paruhnya; ia bercerita tentang patung Sphinx, yang berumur setua dunia itu sendiri, dan hidup di padang pasir, ia mengetahui segalanya; akan para pedagang, yang berjalan dengan perlahan-lahan di sisi unta mereka, dan menggengam batu tasbih dalam tangan-tangannya; akan Raja dari Gunung-gunung dan Bulan, yang sehitam kayu eboni, dan memuja sebuah kristal besar; akan ular hijau besar yang tidur didalam pohon palem, dan memakan kue-kue madu yang disediakan oleh dua puluh imam; dan tentang orang kerdil yang berlayar di atas danau yang besar menggunakan daun-daun yang datar yang besar, dan selalu berperang dengan kupu-kupu.

” Burung layang-layang kecilku sayang…” kata Pangeran, ” kamu bercerita tentang banyak hal yang mengagumkan, tetapi yang paling mengagumkan dibandingkan apapun juga adalah penderitaan yang dialami setiap umat manusia. Tidak ada teka-teki yang lebih besar dari pada kesengsaraan.”

“Terbanglah diatas kotaku, burung layang-layang kecil, dan ceritakan apa yang kamu lihat di sana.”

Maka sang burung layang-layangpun terbang di atas kota besar tersebut dan melihat orang-orang kaya bersuka-ria dalam rumah-rumah mereka yang indah, sementara pengemis-pengemis duduk di depan gerbang.

Ia terbang diatas jalan setapak yang gelap, dan melihat wajah-wajah pucat anak-anak yang kelaparan sedang memandang ke arah jalan yang gelap dengan mata tanpa harapan.

Di kolong sebuah jembatan dua anak-anak lelaki sedang berpelukan dalam lengan satu sama lain untuk mencoba menghangatkan diri mereka. ” Oh, betapa laparnya kami!” kata mereka. ” Hush! Kamu tidak boleh berada di sini,” teriaki seorang penjaga, dan mereka berlari ke luar kolong jembatan menerobos hujan yang dingin.

Kemudian ia terbang kembali dan menceritakan pada] Pangeran apa yang telah ia lihat.

” Seluruh tubuhku dilapisi oleh lempengan emas dengan kualitas terbaik, ” katakan Pangeran, ” kamu dapat melepaskannya lembar demi lembar dan memberikannya pada yang lemah dan miskin; mereka selalu berpikir bahwa emas dapat membuat mereka bahagia.”

Lembar demi lembar emas pelapis tubuh sang pangeran dilepas oleh sang burung kecil, hingga patung Pangeran yang bahagia terlihat abu-abu kusam. Lembar demi lembar emas berharga itu ia berikan pada yang miskin, dan wajah anak-anak menjadi lebih merah, dan mereka pun mulai tertawa dan bermain di jalanan. ” Kita mempunyai roti untuk dimakan sekarang!” seru mereka senang.

Kemudian saljupun datang, dan setelah salju datanglah kebekuan. Jalan-jalan seolah terbuat dari perak, lintasannya begitu terang dan berkilau; tetesan air beku seperti golok kristal tergantung dari atap-atap rumah, semua orang berpergian dengan menggunakan jaket bulu yang tebal, dan anak-anak lelaki kecil mengenakan poco berwarna merah tua dan meluncur diatas es.

Kasihan si burung layang-layang kecil, ia menjadi bertambah dingin dan lebih dingin lagi, tetapi ia tidak mau meninggalkan Pangeran, ia terlalu mencintainya. Ia memungut remah-remah roti dari luar itu pintu toko ketika tukang roti sedang lengah dan ia mencoba untuk menghangatkan badannya dengan mengepak-ngepakkan sayapnya yang kecil.

Namun pada akhirnya ia mengetahui bahwa ia akan segera mati. Ketika kekuatannya hanya cukup untuk terbang hingga ke bahu pangeran untuk terakhirkalinya, maka ia terbang untuk mengucapkan perpisahannya. ” Selamat tinggal, Pangeranku sayang!” bisiknya, ” bolehkah aku mencium tanganmu?”

” Akhirnya kamu akan pergi ke Mesir jua Burung layang-layang kecilku, aku gembira atas keputusanmu,” katakan Pangeran, ” kamu sudah tinggal terlalu lama di sini; janganlah kau cium tanganku, ciumlah bibirku, karena aku juga menyayangimu.”

” Bukan Mesir yang aku tuju,” katakan sang burung layang-layang. ” Aku akan pergi ke Rumah Kematian. Kematian adalah saudara dari Tidur, iya kan?”

Dan iapun mencium Pangeran yang bahagia di bibir, dan jatuh mati dibawah kakinya.

Seketika itu juga terdengar suara patah dari dalam patung, seolah-olah ada sesuatu yang terbelah. Ternyata hati Pangeran yang terbuat dari timah telah patah menjadi dua bagian. Malam itu pasti sangat dingin sekali sehingga timah pun dapat membeku dan patah.

Pada keesokan paginya Sang Walikota sedang berjalan-jalan di lapangan bersama-sama dengan Anggota Dewan Kota. Ketika mereka melewati kolom tinggi dimana Patung Pangeran Bahagia berdiri mereka menengadah keatas dan berkata, ” Oh lihat itu!” seru Sang Walikota, “betapa lusuhnya rupa Pangeran Bahagia!” katanya.

” Ya, ya, tentu saja! Ia terlihat lusuh” jawab Anggota Dewan yang selalu setuju dengan Walikota;¬†; dan mereka pun pergi keatas san memeriksa patung tersebut. ” Batu rubi merah delima telah jatuh dari pangkal pedangnya, kedua matanya terlah hilang, dan ia sudah tidak terbalut emas lagi,” kata sang Walikota, ” bahkan ia hanya terlihat sedikit lebih baik dari seorang pengemis!”

” Lebih baik dari pengemis,” katakan Dewan Kota.

” Dan lihat ini, bahkan ada seekor burung yang mati dikaki nya!” lanjut Sang Walikota. ” Kita harus membuat peraturan bahwa burung tidak diijinkan untuk mati disini.”

Dan Juru Tulis kota pun mencatat usul tersebut.

Sehingga merekapun menurunkan Patung Pangeran yang bahagia.

” Karena ia adalah tidak indah lagi, maka ia tidak lagi bermanfaat,” kata Profesor Seni dari sebuah Universitas.

Lalu mereka melelehkan patung Pangeran Bahagia di tungku perapian, dan Walikotapun mengadakan pertemuan dengan Perusahaan-perusahaan besar untuk menentukan apa yang hendak dilakukan atas logam bekas Patung Pangeran Bahagia

Malaikat membawa jasad burung kecil dan hati timah Pangeran yang Bahagia

” Kita harus mempunyai patung pengganti, tentu saja,” kata Sang Walikota, ” dan patung tersebut adalah patung diriku.”

” Diriku! Diriku!,” masing-masing anggota dewan berkata, dan merekapun bertengkar akan patung siapa yang akan menjadi pengganti patung Pangeran Bahagia. Terakhir terdengar mereka masih bertengkar.

” Ada yang aneh!” kata mandor pandai besi yang bekerja di tempat pengecoran logam. ” Hati timah yang patah ini tidak mau meleleh di tungku perapian. Kita harus membuangnya.” Maka mereka melemparkannya di gundukan debu dimana jasad Burung layang-layang kecil terbaring.
” Bawakan aku dua hal yang paling berharga di kota itu,” Titah Tuhan pada salah satu malaikatnya. dan Sang Malaikat pun kembali dengan membawa hati timah yang patah dan seekor burung layang-layang yang sudah mati.

“Kamu telah memilih dengan tepat,” Sabda Tuhan, “di kebun surgaku sang burung kecil ini akan berkicau selamanya, dan di kota emasku Pangeran Bahagia akan memujiKu.”

(Cacatan : Ornitologi : Ilmu yang mempelajari tentang burung / ahli burung)

(Dikarang oleh Oscar Wilde – 1854 – 1900)

22 November 2008

About This Blog

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 21:45

Sebenarnya…… blog ini adalah blog berita. Dan kuubah menjadi blog yg membicarakan tntng diriku. Namun kenapa skrng mnjd Blog yg berisi cerita – cerita dongeng dari seluruh dunia??? Gini ceritanya.

Aku waktu itu lg mikir gmn crny biar blognya eksis dan beda dari lainnya. Kalau berita???? Hhhmmm blm tntn dpt yg bagus. Klo tntng diriku, bs aj ad yg mngkritik dn mngtkn itu adalah kebohongan belaka.

Akhirnya setelah melalui proses yg begitu panjang, aku langsung menetapkan blog ini jadi blog yg berisi dongeng – dongeng dari seluruh dunia, lengkap dengan para pengarang2 nya dan definisinya jg pkokny smuanya yg brhbngn ma DONGENG lah ada disini.

Mohon maaf bila isinya masih agak gak karuan karena br diproses. Selanjutnya akan aq proses lagi biar kedepannya bisa bagus, seperti blog lama aq yg ada di friendster.

Mohon maaf juga bila ada kata – kata yg kurang diinginkan di cerita tersebut karena tau sndr ya, ku mengopy dari situs – situs terkait n bs sjlh ceritanya ad yg krng paham.

Petualangan Tom Sawyer

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 21:28

Tom Sawyer adalah seorang anak laki-laki yang sangat menyukai petualangan. Pada suatu malam ia melarikan diri dari rumah, lalu bersama temannya yang bernama Huck pergi ke pemakaman. “Hei, Huck! Kalau kita membawa kucing yang mati dan menguburnya, katanya kutil kita bisa diambil. ” “Benar. Serahkan saja padaku! Masa’sih begitu saja takut. “

” Hei , tunggu! Ada orang yang datang! Tom dan Huck segera bersembunyi. “Bukankah itu dokter dan Kakek Peter? Dan itu si Indian Joe…” Kemudian Dokter dan Kakek Petter mulai bertengkar karena masalah uang. Untuk mendapatkan mayat, Dokter harus melakukan penggaliannya berdua. Lalu Kakek Petter mulai menaikkan harga, tetapi Dokter menolak. Kemudian Kakek Petter dipukul oleh Dokter hingga terjatuh. Setelah itu, si Indian Joe memungut pisau yang dibawa Kakek Petter dan melompat menyerang Dokter. Brukk!

Si Indian Joe membunuh Dokter, lalu pergi membawa lari uang itu. Keesokan harinya Dokter ditemukan meninggal dunia di pemakaman itu, dan orang-orang kota mulai berkumpul. “Ini adalah pisau Kakek Petter. Jadi, Kakek yang membunuh Dokter.” “A… aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas… “Apa!? Aku telah melihat Kakek Petter membunuh Dokter.” ” Memang benar, pembunuhnya adalah Kakek Petter.

Kemudian Kakek Petter ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. “Wah… padahal pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe.” “Tetapi, kalau kita mengatakan hal itu, si Indian Joe akan balas dendam dan membunuh kita… ” Beberapa hari telah berlalu, dan semua orang tela.h melupakan kejadian itu. Pada suatu hari Tom bertengkar dengan Becky, gadis yang disukainya di sekolah. “Apa-apaan. Aku benci sama Tom.”

Tom yang dimarahi oleh Becky merasa patah hati. Lalu temannya yang bernama Joe berkata, “Baik di rumah maupun di sekolah aku sudah tak diperlukan. Tom, kita melarikan diri saja, yuk! ” Tom dan Joe mengajak Huck, mereka bermaksud hidup di sebuah pulau di tengah-tengah sungai. “Yahooo! Kalau begini, kita seperti bajak laut, ya! “Kita tak perlu pergi ke sekolah.” Ketiganya menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuatnya, dan mereka seharian bermain. Ketika mulai lapar, mereka pun makan telur goreng dan apel.

Keesokan harinya ketika mereka sedang bermain, tibatiba…. duaaar! Air sungai menyembur ke atas. “Oh, itu adalah isyarat dari seseorang yang sedang mencari orang yang tenggelam. ” Orang-orang kota mengira Tom dan Joe tenggelam di sungai, lalu mereka pun datang untuk mencari. ” Mungkin saat ini Bibi Polly sedang mengkhawatirkanku. Di tengah malam Tom berenang menyeberangi sungai, kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan. Ketika Tom mengintip dari jendela, dilihatnya Bibi Polly dan Ibu Joe sedang menangis. “Semuanya meninggal dunia, ya…”

Kemudian Tom kembali ke pulau dan menceritakan hal itu pada Huck dan Joe. Mereka sangat terkejut. Akhirnya, mereka sepakat untuk pulang pada hari upacara pemakaman mereka. “Wah, Tom! Kamu pulang, ya.’ “Joe, syukurlah kamu pulang dengan selamat.” Semuanya gembira atas kepulangan mereka. Beberapa hari kemudian pengadilan Kakek Petter dimulai. Di pengadilan Kakek Petter ditetapkan sebagai pembunuh, dan ia akan dihukum mati. Untuk membebaskan Kakek Petter, Tom memberanikan diri menjadi saksi. “Pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe itu. “Kami telah melihat kejadian yang sesungguhnya.” Si Indian Joe yang mendengar hal ini segera melompat dari jendela. Praaang! Ia melarikan diri. Kakek Petter merasa sangat gembira karena jiwanya tertolong. “Tom, terima kasih banyak. Begitu pengadilan berakhir, kota kembali pada kehidupannya semula. Pada suatu hari Huck dan Tom pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni. Ketika keduanya sedang mencari sesuatu di tingkat dua, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah. “Ooh! Si Indian Joe bersama sahabatnya, si pencuri! “

Untuk menyembunyikan uang yang telah dicurinya, para pencuri itu mulai menggali lantai. Dan… criing! Mereka mengeluarkan kotak emas. “Hyaaa! Harta karun yang banyak! “Baiklah, kita pindahkan persembunyiannya lalu kita beri tanda dengan kayu ini. ” Si Indian Joe juga mulai naik ke tingkat dua, untuk memeriksa. “Bagaimana, nih? Kalau ketahuan, pasti kita dibunuh olehnya…” Praaak! Gedebug! Karena papan tangganya sudah lapuk, di tengah-tengah tangga si Indian Joe terjatuh. Tom dan Huck pun merasa lega.

Beberapa hari telah berlalu. Pada suatu hari Huck mengikuti Indian Joe dan temannya sendirian. “Apakah mereka mau menyembunyikan emasnya?” Tetapi, Indian Joe dan temannya bermaksud menyerang rumah Nyonya Douglas. “Gawat! Aku harus cepat-cepat memberitahukannya pada seseorang! ” Karena pemberitahuan Huck, orang yang rumahnya bertetangga dengan Nyonya Douglas segera membawa senapan dan menembak para pencuri itu. Door! Door! Indian Joe dan temannya sangat terkejut, lalu mereka melarikan diri. ” Sudah tidak apa-apa, kok!! “Ini semua berkat Huck. Terima kasih atas pemberitahuannya, ya! “

Di lain pihak Tom, Becky, dan teman-temannya pergi berpiknik bersama-sama. Tetapi, Tom dan Becky tersesat di sebuah goa. Mereka tak tahu jalan pulang. Tiba-tiba, muncul asap membumbung mengelilingi keduanya. “Kyaaa! Tom, aku takut!” “Oh, ada seseorang! ” Tiba-tiba muncullah sosok Indian Joe di depan Tom dan Becky. Saking terkejutnya, sampai-sampai keduanya sulit untuk bemafas. “Waaaw! Ayo, lari! Dengan cepat, Tom dan Becky berlari hingga keluar dari dalam goa. Akhimya mereka pulang.
Bibi Polly yang khawatir sangat gembira dengan kepulangan kedua anak itu. Ketika Tom pergi bermain ke rumah Becky, ayah Becky berkata, Tom karena goa itu berbahaya, sebaiknya ditutup saja. “Ya… tetapi di situ ada Indian Joe. Ketika semuanya pergi ke sana, temyata Indian Joe jatuh pingsan di pintu masuk goa. la tersesat. Kemudian mereka menutup pintu masuk goa, dan menjebloskan Indian Joe ke dalam penjara. “Temyata Indian Joe menyembunyikan emasnya di atas batu yang terletak di dalam goa ini dan telah diberi tanda. ” Tom dan Huck masuk ke dalam goa dengan melewati jalan rahasia. Ketika mereka menggali batu yang sudah diberi tanda, mereka melihat emas yang disembunyikan kedua orang pencuri itu.

“Horee dengan harta ini, kita akan menjadi kaya!” Saat Tom dan Huck pulang, Nyonya Douglas yang telah ditolong oleh Huck mengadakan pesta untuk menyambut mereka.

(Petualangan Tom Sawyer adalah cerita yang diangkat dari kisah di Mississipi, Amerika. Menceritakan tentang pemuda nakal, bernama Tom dan sahabatnya, Huck. Inti ceritanya ada di tengah-tengah cerita, sehingga menjadi dan mudah dimengerti.)

21 November 2008

Putri yang Sempurna

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 19:18

Dahulu kala, ada seorang pangeran yang menginginkan seorang Putri Raja, tetapi Putri tersebut haruslah sempurna. Dia kemudian melakukan perjalanan mengelilingin dunia hanya untuk mencari putri tersebut, tetapi dia selalu menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak sempurna pada setiap Putri Raja yang ditemuinya. Dia menemukan banyak Putri Raja, tapi tak ada yang benar-benar dianggap sempurna oleh Pangeran itu. Dengan putus asa akhirnya dia pulang kembali ke istananya dan merasa sangat sedih karena tidak menemukan apa yang dicarinya.

Suatu malam, terjadi hujan badai yang sangat keras; dimana kilat dan guntur beserta hujan turun dengan deras sekali; malam itu sungguh menakutkan.

Ditengah-tengah badai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu istana, dan ayah Pangeran yang menjadi Raja waktu itu, sendiri keluar membuka pintu untuk tamu tersebut.

Seorang Putri yang sangat cantik berdiri di luar pintu, kedinginan dan basah kuyup karena badai pada malam itu. Air mengalir dari rambut dan pakaiannya yang masih basah; mengalir turun ke kaki dan sepatunya. Putri tersebut mengaku bahwa dia adalah Putri yang sempurna.

Putri dan dua puluh kasur“Kita akan segera mengetahui apakah yang dikatakan oleh Putri tersebut benar atau tidak,” pikir sang Ratu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Dia masuk ke dalam kamar tidur, mengeluarkan seprei yang mengalas tempat tidur yang akan dipakai oleh sang Putri dan menaruh sebutir kacang polong di atas tempat tidur itu. Kemudian dia mengambil dua puluh kasur dan meletakkannya di atas sebutir kacang tersebut. Malam itu sang Putri tidur di atas ranjang tersebut. Di pagi hari, mereka menanyakan apakah sang Putri tidur nyenyak di malam itu.

“Oh saya sangat susah tidur!” kata sang Putri, “Saya sangat sulit untuk memejamkan mata sepanjang malam! Saya tidak tahu apa yang ada pada ranjang itu, saya merasa berbaring di atas sesuatu yang kasar, dan seluruh tubuh saya pegal-pegal dan memar di pagi ini, sungguh menakutkan!”

Raja dan Ratu langsung tahu bahwa sang Putri ini pastilah putri yang benar-benar sempurna, karena hanya putri yang sempurna dapat merasakan sebutir kacang yang ditempatkan di bawah dua puluh kasur an dilapisi dengan dua puluh selimut. Hanya putri yang benar-benar sempurna mempunyai kulit yang begitu halus.

Pangeran kemudian mengambilnya sebagai istri, dan sekarang dia telah menemukan putri yang selama ini dicarinya. (ditulis oleh Hans Christian Andersen)

Urashima Taro dan Penyu Laut

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 19:16

Urashima Taro, yang dalam bahasa Jepang berarti “Anak laki-laki dari pulau,” adalah anak satu-satunya dan merupakan kesayangan dari seorang nelayan tua dan istrinya.

Dia sangat baik, muda dan kuat, dia dapat berlayar dengan perahu jauh lebih pandai dari orang-orang yang tinggal di tepi pantai rumahnya. Dia sering berlayar jauh ke tengah laut, dimana para tetangganya sering memperingati orangtuanya bahwa mungkin suatu saat dia akan pergi terlalu jauh ke laut dan tidak pernah kembali lagi.

Orangtuanya tahu akan hal ini, bagaimanpun juga, mereka mengerti bahwa anaknya sangat pandai berlayar, dan mereka tidak pernah terlalu mengkuatirkannya. Bahkan bila Urashima pulang lebih lambat dari yang diharapkan, mereka selalu menunggu kedatangannya tanpa rasa cemas. Mereka mencintai Urashima lebih dari hidup mereka sendiri, dan bangga bahwa dia sangat berani dan lebih kuat dari anak laki-laki tetangganya.

Penyu yang terjaringSuatu pagi, Urashima Taro pergi untuk mengambil tangkapan di jaringnya, seperti yang ditebarkannya kemarin malam. Di salah satu jaringnya, diantara ikan yang tertangkap, dia menemukan seekor penyu kecil yang ikut terjerat. Penyu itu di ambilnya dan diletakkannya di dalam perahu sendiri, disimpannya di tempat yang aman, hingga dia dapat membawanya pulang ke rumah. Tetapi dengan kagum, Urashima mendengarkan penyu itu memohon dengan suara yang sangat lirih. “Apa gunanya saya bagi kamu?” tanya penyu itu. “Saya terlalu kecil untuk dimakan, dan terlalu muda hingga butuh waktu yang lama hingga saya menjadi besar. Kasihanilah saya dan kembalikan saya ke laut, karena saya tidak ingin mati.” Urashima Taro yang baik hati menaruh belas kasihan paa penyu kecil yang memohon sehingga dia melepaskan kembali penyu kecil itu ke laut.

Beberapa tahun setelah kejadian ini, ketika Urashima Taro pergi berlayar terlalu jauh ke tengah laut, badai yang buruk datang menerpa perahunya dan memecahkan perahunya hingga berkeping-keping. Urashima adalah perenang yang sangat baik, dan dia terus berupaya agar dapat sampai ke tepi pantai dengan berenang, tetapi jarak antara dia dan pantai terlalu jauh dan saat itu laut sangat ganas, kekuatannya akhirnya melemah dan dia sudah mulai tenggelam perlahan-lahan. Saat dia menyerah dan berpikir bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya lagi, dia mendengar namanya dipanggil dan melihat penyu yang besar berenang ke arahnya.

Naiklah kepunggungku,” teriak penyu itu, “dan saya akan membawamu menuju daratan.” Ketika Urashima Taro telah aman dan duduk di punggung penyu itu, penyu itu lalu melanjutkan kata-katanya: “Saya adalah penyu yang kamu lepas saat saya masih kecil dan tidak berdaya di jaring mu, dan saya sangat senang dapat membalas kebaikanmu.”

Sebelum mereka tiba di pantai, penyu itu bertanya kepada Urashima Taro bahwa apakah dia ingin melihat kehidupan yang indah yang tersembunyi di bawah laut. Nelayan muda itu membalas bahwa hal itu adalah pengalaman yang akan sangat menyenangkan. Dalam sekejap, mereka berdua menukik ke dalam air yang berwarna hijau. Urashima memegang erat-erat punggung penyu yang membawanya ke kedalaman yang tak terkira. Setelah tiga malam, mereka mencapai dasar laut, dan tiba di tempat yang sangat indah, penuh dengan emas dan kristal. Koral dan mutiara dan berbagai macam batu-batuan berharga membuat matanya menjadi berbinar-binar dan terkagum-kagum, dan apa yang ada di dalam istana tersebut lebih membuat dia terkagum lagi, diterangi dengan sisik-sisik ikan yang bersinar indah.

“Ini,” kata penyu itu, “Ini adalah istana dewi laut. Saya adalah salah satu pelayan dari putri dewi laut.”

Sang Putri dan UrashimaPenyu itu kemudian menyampaikan kedatangan Urashima Taro ke sang Putri, dan tidak lama kemudian dia kembali, membawa Urashima ke hadapan sang Putri. Putri dewi laut itu sangat cantik sehingga ketika sang Putri meminta agar Urashima mau tinggal di tempat itu, Urashima langsung menyetujuinya dengan gembira.

“Jangan tinggalkan saya, dan kamu akan selalu terlihat muda seperti sekarang, usia tua tidak akan pernah kamu alami,” kata sang Putri.

Begitulah akhirnya Urashima Taro tinggal di istana bawah laut bersama putri dari Dewi laut. Dia begitu gembira hingga tidak merasa bahwa waktu terus berlalu tanpa terasa. Berapa lama dia disana tak pernah disadarinya. Tetapi suatu hari, dia teringat kepada kedua orangtuanya; dia ingat bahwa orangtuanya mungkin merasa kehilangan dengan ketidakhadirannya. Semakin hari, keinginan untuk pulang terus datang dan bertambah kuat. Pada akhirnya, Urashima mengutarakan maksudnya kepada sang Putri bahwa dia harus pergi menjenguk orangtuanya. Sang Putri menangis sedih dan memohon agar Urashima tidak pergi.

“Jika kamu pergi, saya mungkin tidak akan melihatmu lagi,” tangis sang Putri.

Tetapi keinginan Urashima sangat kuat dan tidak dapat dibujuk lagi. Urashima sangat ingin melihat kedua orangtuanya sekali lagi dan berjanji akan pulang kembali ke istana itu dan tinggal bersama sang Putri selama-lamanya. Sang Putri akhirnya setuju dan memberikan sebuah kotak emas kepadanya dan berpesan agar kotak itu jangan pernah dibuka.

“Jika kamu mengindahkan kata-kataku,” katanya kembali, “kamu mungkin masih dapat kembali kepadaku. Saat kamu siap, penyuku akan berada disana untuk membawamu, tetapi bila kamu lupa apa yang saya katakan kepadamu, Saya tidak akan pernah dapat menemui kamu lagi.”

Urashima Taro dengan bersemangat meyakinkan dia bahwa tidak ada satupun di dunia yang dapat memisahkan mereka, dan mengucapkan selamat tinggal. Dengan menunggangi punggung penyu, dengan cepat dia meninggalkan istana jauh dibelakang. Selama tiga hari tiga malam mereka berenang, dan akhirnya penyu itu tiba di tepi pantai dekat rumahnya yang dulu.

Dengan bersemangat dia lari ke desa itu dan mencari semua teman-teman lamanya. Semua wajah terlihat asing baginya, bahkan rumahnya pun kelihatan berbeda. Anak-anak yang bermain di pinggir jalan dimana dia pernah tinggal, tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia berhenti di depan rumahnya, dengan hati berdebar-debar, dia mengetuk pintu rumah. Terdengar suara musik dari jendela atas dan seorang wanita yang asing baginya membukakan pintu. Wanita itu tidak bisa menjelaskan tentang orangtuanya dan bahkan tidak pernah mendengar nama kedua orangtuanya. Urashima lalu keluar dari rumah tersebut dan menanyai semua orang yang dijumpainya. Tetapi semua yang ditanyai hanya memandanginya dengan curiga. Akhirnya dia menuju ke tanah pekuburan di luar desa. Mencari-cari di antara kuburan yang ada, dan dengan cepat dia menemukan dirinya berdiri di dekat nama yang selama ini dicari-carinya. Tanggal pada batu nisan itu menunjukkan bahwa ayah dan ibunya meninggal tidak lama setelah dia berangkat; dan dia menemukan bahwa dia telah pergi dari rumah itu selama tiga ratus tahun. Dengan penuh kesedihan dia membungkuk untuk menghormati orangtuanya yang terakhir kali dan kembali menuju desanya. Di setiap langkah dia berharap bahwa dia akan terbangun dari mimpinya, tetapi orang-orang yang ditemui dan jalan yang dilalui adalah nyata.

Kemudian dia teringat akan sang Putri dan kotak emas yang diberikan kepadanya. Dia berpikir bahwa mungkin saja sang Putri telah menyihirnya, dan kotak ini mempunyai jimat-jimat untuk mematahkan sihir itu. Dengan tidak sabar dia membuka kotak tersebut, dan seberkas asap berwarna ungu keluar meninggalkan kotak yang kosong. Dengan terkejut, dia tersadar melihat tangannya yang langsung menjadi tua dan gemetaran. dia menjadi sadar bahwa kotak tersebut berisi jimat yang menahan dirinya dari proses penuaan selama tiga ratus tahun, dan kotak itu telah kehilangan sihirnya. Dengan ketakutan, dia berlari ke tepi aliran air yang mengalir dari atas gunung, dan melihat bayangan dirinya yang terpantul di air itu adalah bayangan seseorang yang sangat tua.

Urashima Taro meninggalDia kembali ke desa itu dengan ketakutan, dan tak ada satu orangpun yang mengenali dia sebagai anak muda yang kuat beberapa jam yang lalu. Dengan kelelahan, dia akhirnya mencapai tepi pantai, dimana dia duduk di atas sebuah batu dan memanggil penyu laut yang membawanya ke istana laut. Tetapi panggilannya sia-sia belaka, penyu itu tidak pernah muncul, dan akhirnya suaranya hilang di telan kematian.

Sebelum kematiannya, orang-orang se-desa berkumpul di dekatnya dan mendengarkan ceritanya yang sangat aneh. Lama setelah kejadian itu, orang-orang desa menceritakan kepada anak-anaknya tentang seseorang yang sangat mencintai orangtuanya, meninggalkan istana bawah laut dan seorang Putri yang sangat cantik, dan orang itu bernama Urashima Taro. (Cerita Rakyat dari Jepang)

15 November 2008

dalam masa berkabung…….

Filed under: Uncategorized — fuNnY sAkuRa pInK @ 23:48

ini adalah kejadian aneh yg pernah gw alami…… meskipun di mimpi tapi masih menyisahkan suatu hal yg pedih banget….

mimpi ini terjadi saat gw kelas 6 SD, waktu itu masih semester 1, namun mau beranjak ke semester 2 karena mimpi ini terjadi sekitar bulan november atau desember. waktu itu gw pertama kali disuruh bimbel karena ya pasti udah taulah, semester 2 gw banyak ujiannya, termasuk UAN dan UAS…. nah pas hari kedua gw les gw ketemu sama seorang temen yang udah lama bimbel disono…. dia tuh kalau ada apa2 maunya cerita ma gw atau gak yaahhh apa ajalah pokoknya dia itu asik deh anaknya….

namanya???? gw sih agak lupa2 dikit karena dah lama gak ketemuan…. tapi kalau soal mukanya gw masih inget banget tuh anak! oh ya, anak itu cewek, tingginya ya kira – kira sehidung gw tapi gw gak pasti….

suatu kali, dia cerita satu hal sama gw. cerita itu pedih, pedih banget. sebenarnya apa sih cerita itu??? oh maaf, gw gak bisa menuliskan cerita itu coz cerita itu adalah privasi dari sang pemilik cerita itu. tapi yg jelas, cerita itu pokoknya menyedihkan bangetlah.

sampe gw pulang bimbel, gw masih mikirin cerita itu sampe2 masuk ke mimpi. di mimpi itu, ada seorang wanita cantik berpakaian hitam semuanya, dari atas sampe bawah. lalu gw dibawa ke sebuah pemakaman umum dan saat itu, pemakaman sedang ramai2nya karena ada yg meninggal dan dikubur disini. namun, gw kaget banget!!! ternyata temen gw itu ada disana, meratapi makam yg ramai itu!!! dan wanita itupun berkata ‘nak, mengapa aku membawamu kesini??? aku ingin menunjukkan padamu, bahwa kamulah yg harus menggantikan arwah orang yg disayangi temanmu itu. dan kamu, harus menjadi penggantinya apapun yg terjadi. buatlah dia ceria kembali seperti dulu, buatlah dia menjadi tabah akan masalah ini dan dapat melupakannya’ dan seketika, wanita itu hilang. dan akhirnya gw pun terbangun dengan perasaan yg kaget.

sejak saat itu gw terus membuatnya agar dia tetap ceria seperti dulu. hasilnya???? dia berhasi melupakan hal2 yg membuatnya menjadi sedih dan kembali bergembira.

gw sekarang gak tau dia ada dimana, tapi gw akan selalu ingat wajahnya itu…… wajahnya itu….

Older Posts »

The Banana Smoothie Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.